Di Usia 75 Tahun, Nek Kamih Masuk Keluar Gang di Ibu Kota Jualan Lauk Demi Menyambung Hidup

tribunnewsTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usia lanjut bagi seseorang biasanya di rumah saja menikmati masa tuanya,
Namun itu tidak berlaku bagi Nek Kamih.
Demikian warga menyapa nenek berusaia 75 tahun ini.

Nek Kamih pernah 35 tahun menjadi juru masak rumah sakit swasta di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Di usia tuanya, alih-alih menikmati masa tuanya Nek Kamih lebih memilih berkeliling berjualan lauk matang.

Ia enggan merepotkan enam anaknya tersebab hidup mereka saja pas-pasan.
Ada yang jadi pedagang, tukang bangunan, hingga tukang ojek pangkalan.
Sebagai orangtua, tak tega hati Nek Kamih jika menyandar kebutuhan hidupnya kepada mereka.

"Dari dulu, dari muda, sudah terbiasa bekerja," Nek Kamih membuka obrolannya dengan TribunJakarta.com saat ditemui di Jatisampurna, Selasa (12/5/2020).
"Tapi ada rasa sedih saja, karena saat ini di usia 75 tahun masih harus keliling jualan," sambungnya.

Sudah beberapa tahun terakhir ini Nek Kamih berjualan dengan membawa ember kecil berisi lauk matang.

Bangun pukul 04.00 WIB, Nek Kamih persiapan salat Subuh.
Sesudahnya ia berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan lauk yang akan dijualnya.
Pepes tahu, ayam, kentang balado hingga oseng pare, sekian lauk yang dijual Nek Kamih.

Ia biasa berdagang keliling Gang Jengkol, Jatisampurna, Kota Bekasi, selepas salat salat Asar.
Di usia yang tak lagi muda ini, Nek Kamih terpaksa harus jalan memutar untuk mendapatkan pembeli.

Rute biasanya ia lewati terpaksa ditutup warga setempat akibat pandemi Covid-19.
Beberapa hari terakhir ini dagangannya sepi pembeli. Ia pun mesti ke kampung sebelah agar dagangannya habis.

"Biasanya keliling bisa dapat Rp 200 ribu, sekarang dapat Rp 100 ribu saja sudah bagus," terang Nek Kamih.
Lelah sudah pasti, tapi Nek Kamih selalu mengucap doa di tiap langkahnya mencari rupiah agar berkah.

"Alhamdulillah sekarang setiap pulang sisanya sedikit," katanya.

Pas awal-awal puasa saya berhenti jualan dulu, baru dilanjutkan menjelang akhir puasa," sambung Nek Kamih.

Juru Masak Rumah Sakit

Nek Kamih tak pernah benar-benar sepi pembeli, karena sudah punya langganan.
Mereka setia dengan cita rasa lauk pauk hasil olahan Nek Kamih yang terus dipertahankan.
"Warga di sini sudah tahu rasa masakan saya. Makanya kalau saya jualan biasanya mereka beli."
"Walaupun beberapa tapi mereka masih sempatkan untuk membeli," jelasnya.
Pelanggannya tahu, Nek Kamih pernah 35 tahun menjadi juru masak di salah satu rumah sakit swasta.
Selepas kepergian Sumardi suaminya pada 1981, Nek Kamih bekerja di sana dengan bayaran Rp 60 ribu per bulan.